Senin, 06 Agustus 2012

AWAS KEJAHATAN ALA HIPNOTIS


Menikmati indahnya suasana sore hari dibulan puasa sambil menunggu datangnya adzan magrib berkumandang, serta segarnya angin sore yang berhembus sepoi-sepoi, menemani diri saya untuk menutus artikel ini.
Artikel ini sebenarnya telah lama ingin saya tulis untuk diketahui temen-temen semua, namun karena suatu hal semua itu baru bisa terwujud saat ini. Tak apa lah, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Motivasi saya menulis artikel ini adalah karena dalam situasi dan kondisi tertentu seperti saat ini (maksud saya menjelang lebaran, maupun disaat menjelang liburan panjang yang biasanya banyak orang memanfaatkan untuk mendatangi tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan keramaian), biasanya banyak sekali bermacam-macam modus kejahatan yang berakibat merugikan pada orang lain.  
Seperi termasuk judul artikel saya kali ini AWAS KEJAHATAN BERMODUS HIPNOTIS juga kerap terjadi dalam masyarakat terutama biasanya lebih sering menimpa pada mereka yang hendak mudik ke kampung halaman untuk bertemu sanak familinya  setelah sekian lama merantau dikampung orang untuk mencari rezeki.
Bila Anda adalah termasuk orang yang hendak bepergian/mudik/PulKam/PD alias pulang desa/pulang kampung, waspadalah dan berhati-hatilah agar terhindar dari bahaya kejahatan yang selalu mengintai. Terlebih kejahatan yang bermodus ala-ala hipnotis/gendam.
Lalu benarkah bahwa kejahatan yang terjadi demikian adalah kejahatan yang menggunakan ilmu hipnotis? Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, namun juga belum tentu salah, kejahatan yang biasa terjadi demikian, biasanya adalah seseorang/oknum yang mengambil keuntungan secara materil untuk tujuan pribadi dengan memanfaatkan sisi lain dari sesuatu yang ada. Sebagai contoh disini yaitu orng yang melakukan kejahatan bermodus penipuan dengan memanfaatkan kelemahan  psikologis seseorang. Artinya mungkin pelaku kejahatan sebenarnya bukanlah seorang yang menguasi ilmu hipnotis tetapi memanfaatkan celah kelengahan seseorang yang seolah-olah seperti ahkli hiopnotis.
Nah, untuk bisa membuktikan dan menjawab kejadian tersebut, maka kita harus melihat secara cermat apakah itu benar-benar korban hipnotis/gendam/atau hanya berkedok hipnotis. Maka dari itu kiat harus mengumpulkan dat dan fakta mengenai kejadian tersebut.
Mungkin bisa juga seorang pelaku kejahatan tersebut sebenarnya hanya memanfaatkan efek psikologi calon korbannya. Jika yang terjadi disebabkan hal ini  maka sebenarnya pelaku kejahatan tidaklah seseorang yang menguasai tentang hipnotis, dan mungkin dia juga tidak tau sama sekali teknik/dasar hipnotis itu.
Kalo kita masih ingat dengan kasus sms merah maka itulah yang terjadi dalam hal ini, atau mungkin bila kita mungkin pernah menerima sms dari orang/nomer yang tidak dikenal kemudian dalam isi smsnya mengatakan begini “SELAMAT  ANDA MENDAPATKAN HADIAH UANG 1M.......,UNTUK KONFIRMASI SILAHKAN HUBUNGI NOMER ...........
Dalam kasus ini,bila kita amati sebenarnya setiap orang akan memiliki efek psikologis dalam menerima kabar/berita yang telah diterimanya. Baik itu berita yang bersifat positif maupun berita yang berisi negatif.
Ketika mendapat berita yang demikian tersebut diatas maka secara psikologi, orang yang bersangkutan akan langsung panik dan mungkin akan langsung menuruti permintaan orang yang menelfon/sms.
Ada lagi kasus begini, “ ibu/saudari A baru saja pulang dari bank untuk mengambilsejumlah uang, ketika dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan seseorang bernama taun B,kemudian mereka bercakap-cakap kesana kemari dengan begitu akrabnya, tanpa ibu/saudari A ternyata ia telah terpesona/terpana/terpikat oleh penampilan,sopan-santun,
Ketika korban menyadari  kejadian tersebut mungkin ia akan mengatakan bahwa dirinya baru saja telah menjadi korban kejahatan hipnotis.
Maka dalam kasus seperti ini sebenarnya tidaklah bijak bila nilai negatif ditujukan pada hipnotis. Secara alamiah,sebenarnya setiap diri seseorang dalam pikiran bawah sadarnya memiliki benteng pribadi. Jadi, bila kita tidak mengizinkan seseorang untuk memasuki pikiran bawah sadar kita, maka jwa kita tidak akan pernah bisa dikuasai oleh siapapun. Sekali lagi ini kiuncinya adalah pada diri kita sendiri.
Ada beberapa syarat untuk bisa terjadinya hipnotis:
·        Orang yang bersangkutan mau/bersedia dihipnotis.
·        Sugesty yang diberikat bersifat positif/tidak bertentangan dengan kepribadian klien.
·        Adanya kerjasama yang baik antara klkien dengan praktiisi.
Nah untuk bisa terjadinya sebuah proses HIPNOSIS/HIPNOTIS, paling tidak tiga hal tersebut diatas harus tercapai dulu. Sekarang coba kita amati realita yang terjadi dilapangan, mungkinkah itru benar hipnotis? Ataukah mungkin itu hanya merupakan korban pembiusan?
Waspada dan berhati-hati itu akan lebih baik untuk terhindar dari kejahatan. Semoga sedikit artikel ini bisa memberikan wawasan mengenai kasak-kusuk kejahatan yang menggunakan embel-embel hipnotis.
Comments
0 Comments